Peyek Kepiting Idola Pengusaha Chandra Ekajaya

Kegagalan kerap kali mewarnai kisah perjuangan seorang pengusaha Chandra Ekajaya. Bagi beberapa pengusaha, kegagalan bisa dijadikan alasan untuk berhenti. Namun, banyak pula pengusaha yang justru menuai sukses dengan bangkit dari kegagalan. Dengan modal Rp. 10 juta, pengusaha ini menyewa ruko dan menyajikan menu seperti ayam bakar, ayam goreng, dan lain-lain. Akan tetapi, bisnis ini hanya bertahan selama empat bulan. Penutupan itu membuahkan konflik antara dirinya dengan pemilik ruko yang dia sewanya. Buntut dari konflik itu, dirinya tak bisa menempati ruko tersebut. Lantaran modal nya sudah habis, Chandra tak lagi bisa melanjutkan usahanya.
Chandra Ekajaya gagal dan kembali merintis bisnis di bidang kuliner. Kali ini, dia tak perlu keluar modal. Dia bekerjasama dengan seorang partner yang bersedia memberi modal untuk bisnis martabak mini. Namun lagi-lagi, usaha itu berjalan sesaat saja. Setelah lima bulan, Dia dan rekannya harus putus. Padahal, dia sempat punya beberapa mitra usaha dari usaha martabak itu. " Ada masalah dengan rekan saya itu. Kami beda visi dan tujuan dalam usaha jadi terpaksa bubar, " kata dia. Dalam kondisi itu, Dirinya tetap optimistis usaha martabak mini punya peluang yang bagus untuk dijalankan.
Di sisi lain, tetangganya yang punya usaha rempeyek kacang juga menutup usaha. handra justru punya ide untuk berjualan Peyek. Chandra Ekajaya belajar membuat rempeyek dari tetangganya itu. “Waktu saya coba jual ternyata susah. Pantas saja tetangga saya itu juga usahanya tak bertahan lama,” ungkapnya. Namun, kesulitan itu tak mematahkan niatnya. Dia masih bertekad untuk menafkahi keluarganya dengan berusaha. Dengan sisa tabungan sebesar Rp. 100.000, Dirinya pun harus memeras otak untuk menghasilkan inovasi agar usaha rempeyek bisa jalan.

Tak lupa, dia menggali potensi yang ada di Balikpapan yang terkenal dengan budidaya kepiting. Dari situ, akhirnya, pengusaha tersebut mendapat ide untuk membuat rempeyek kepiting. “ Saya pilih kepiting sebagai bahan baku karena banyak tersedia di Balikpapan, ” sebut dia. Maka, sejak 2014, dia mulai bisnis pembuatan rempeyek kepiting. Awalnya, dia membuat 20 bungkus rempeyek. “ Respon pasar ternyata sangat bagus karena belum pernah ada rempeyek dibuat dari daging kepiting, ” ucapnya. Produk rempeyek kepiting buatan Chandra diberi brand Peyek Laut berdasarkan daerah produksinya. Pada bulan pertama penjualan, Dia meraup omzet Rp. 300.000 dari usaha rempeyek kepiting.
Tak seperti bisnis sebelumnya, bisnis rempeyek ini berjalan lancar. Bahkan, berkembang pesat karena dia menjadi pelopor bisnis ini. Kini, dia memproduksi 1.000 bungkus rempeyek kepiting per hari. Selain rasa original, dia juga menyediakan varian rasa pedas dan lada hitam. Dia menjual rempeyek kepiting itu seharga Rp. 12.000 dan Rp. 24.000 per bungkusnya. Setiap hari, dia mengolah puluhan kilogram kepiting untuk dijadikan peyek. Dia mengatakan, bahan baku kepiting berlimpah di Kota Balikpapan. Harganya Rp. 75.000 per kg. “ Satu kilogram kepiting bisa jadi 20 sampai 30 bungkus rempeyek, ” sebutnya.
Ayah dari satu orang putri ini menjamin gizi dari kepiting tak akan hilang meskipun sudah di olah menjadi rempeyek. Selain didistribusikan ke pusat oleh-oleh di seputar Balikpapan, diri nya juga mengandalkan penjualan secara online. Bahkan, saat ini dia bekerjasama dengan 15 distributor di seluruh Indonesia. “ Saya juga bekerjasama dengan swalayan untuk penjualan rempeyek kepiting ini, ” kata dia. 
Previous
Next Post »