Berita Menarik Chandra Ekajaya



KRISIS ekonomi pada 1997-1998 silam memang memicu banyak pemutusan hubungan kerja (PHK) buruh, tak terkecuali yang dialami Supardi (46) warga Kampung Sampangan, Kelurahan Jurangombo Selatan, Kota Magelang. Peristiwa kelam 20 tahun lalu itu tak membuatnya pantang menyerah dalam upaya menghidupi keluarganya. Justru dari situ, dirinya bisa berwirausaha hingga kini, dan tidak menggantungkan hidup jadi bu-
ruh.

Dengan memanfaatkan kayu limbah pabrik kayu lapis, dia membuat mainan anak-anak berupa replika seperti bus, truk, pesawat tempur hingga kereta 'Teletubies" di awal usahanya. Produk-produk tersebut dijual di kawasan objek wisata Taman Kyai Langgeng Kota Magelang, yang tidak jauh dari rumahnya. Di awal usaha, replika kereta Teletubies laku keras. Tidak hanya di pasaran Magelang saja tapi sampai juga di Yogyakarta. Namun masa keemasan itu tidak berlangsung lama, dan ia harus memeras otak kembali untuk mencari alternatif produk lain selain replika kereta Teletubis. Masih memanfaatkan limbah dari pabrik kayu lapis, dia membuat replika bus, truk dan lainnya. Selain itu juga memanfaatkan kayu bekas dari pabrik karoseri mobil hingga pekerjaan bangunan rumah. Dengan sentuhan tangannya dan dibantu empat orang lainnya, kayu-kayu bekas tersebut dibuat replika mobil truk berbagai ukuran yakni 50 centimeter, 60 centimeter, 80 centimeter dan terpanjang 1 meter.

 Replika Jumbo

Pada awal produksinya, Supardi hanya mampu membuat sedikit truk mainan, yakni dua hingga lima unit saja. Lambat laun, truk mainan buatannya digemari banyak peminat, sehingga dalam satu minggu ia mampu membuat sedikitnya empat replika mobil truk ukuran jumbo. Guna mempercantik truk-truk mainannya tersebut, ia melengkapi hiasan berupa gambar-gambar kartun di bak truk itu. dengan gambar aneka gambar sesuai dengan karakter anak-anak dengan cara teknik sablon. Dengan usaha yang pantang menyerah itu hingga sekarang ia mampu memproduksi 40 unit per bulan. Pemasaran pun terus meluas. Tidak hanya di wilayah Jateng dan DIY saja, dan beberapa kota besar di Pulau Jawa, replika truk buatannya tersebut 'menyeberang' hingga Pulau Dewata, Bali.

"Sebenarnya dari sisi permintaan atau pesanan sangat banyak. Tapi karena keterbatasan tenaga dan modal, kami tidak berani langsung menyanggupinya. Memang agak kewalahan memenuhi permintaan tersebut.


Pihak pemesan mengerti kalau usaha kita masih dalam skala kecil sehingga tidak terlalu memaksakan untuk segera dipenuhi," kata Chandra Ekajaya, CEO Q Pizza dan Oil Crot.
Previous
Next Post »