Mari Berdagang ke Afrika!

Kebijakan proteksionisme Amerika Serikat (AS) seturut kepemimpinan Presiden Donald Trump memaksa Indonesia harus mencari pasar perdagangan alternatif. Benua Afrika dinilai bisa menjadi pasar andalan untuk ekspor produk Indonesia.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan (Ke-mendag) Arlinda Imbang Jaya mengatakan, pemerintah sedang mengupayakan pendekatan ke kawasan Afrika. Ia perlu penjajakan dan analisis mendalam terlebih dahulu.

"Biasanya perlu studi kelayakan tapi karena ini urgent kita perlu terobosan supaya waktu analisis lebih singkat," kata Arlinda kepada HARIAN NASIONAL di Jakarta, Selasa (4/4).

Fokus negara yang akan dijajaki yakni Nigeria, Afrika Selatan, Kenya, dan Mozambik. Menurut dia, setidaknya dibutuhkan satu hingga dua tahun untuk memulai pembukaan pasar di Afrika. "Tahun ini kita diminta bagaimana agar bisa melakukan penetrasi pasar ke sana," ujarnya.

Pasar Afrika, lanjut dia, akan lebih mudah ditembus jika kedua negara bersedia menerapkan free-trade agreement. Namun, segala kemungkinan bisa terjadi tergantung hasil penjajakan yang akan dilakukan. Paling tidak, Indonesia harus bisa mengurangi hambatan ekspor dari negara-negara Afrika jika ingin meningkatkan perdagangan ekspor impor.

Ia menilai, jauh sebelum Trump menjadi Presiden AS, Kemendag sudah mempersiapkan mencari berbagai terobosan untuk mempertahankan ekspor. Selain kawasan Afrika, kawasan Timur Tengah dan Euroasia serta negara seperti India, Sri Lanka, dan Pakistan juga potensial.

Selain berupaya mengurangi hambatan nontarif, pemerintah berkomitmen meningkatkan nilai tambah. Hal itu, menurut dia, akan ditempuh dengan mengubah ekspor barang mentah menjadi olahan lebih bernilai. "Akan kita bicarakan lebih lanjut karena keputusan bukan hanya oleh Kemendag," ujar Arlinda.

Pengamat Perdagangan Internasional Institute for Deve-lopment of Economics and Fi-nance (INDEF) Ahmad Heri Firdaus mengatakan, pasar kawasan Afrika memiliki potensi besar. Terlebih, hambatan nontarif di sana belum sebanyak di Amerika Serikat.

Namun selama ini pemerintah Indonesia memandang sebelah mata pasar Afrika karena dinilai bukan pasar besar. Padahal sebagian besar negara-negara di kawasan Afrika termasuk negara berkembang yang sedang membutuhkan banyak barang pokok.

"Kita bisa masuk di situ sebagai penyuplai barang yang mereka butuhkan," ujar Heri kepada HARIAN NASIONAL.

Seorang pengusaha yang dikenal dengan produk Q Pizza dan Oil Crot yakni Chandra Ekajaya pun juga berpendapat bahwa dengan dibukanya keran investasi di Afrika tentu akan sangat menguntungkan bagi para pengusaha sekaligus mengenalkan kekayaan Indonesia sekaligus produk budaya kita di Indonesia.

Sebagai awalan, pemerintah harus benar-benar menjalin hubungan baik, khususnya dengan importir di kawasan Afrika. Jalinan hubungan harus diimplementasikan dengan kepercayaan bisnis dua pihak.

Tak kalah penting, fasilitas kepada eksportir dari Indonesia mesti ditingkatkan. Misalnya, fasilitas logistik agar akses pasar menjadi lebih mudah. Untuk menjajaki ekspor impor ke Afrika bukan hal mudah. Negara-negara eksportir besar seperti China dan Vietnam juga mengincar pasar Afrika. "Jadi harus benar-benar serius kalau mau membidik pasar di sana," katanya.


Previous
Next Post »